Konsultasi Gigi: Penggunaan Gigi Palsu

Yulida Medistiara – detikhealth

Pada kasus tertentu, misalnya karena gigi rusak, maka gigi palsu dipergunakan. Namun apakah harus selalu menggunakan gigi palsu? Soal penggunaan gigi palsu ini menjadi salah satu pertanyaan terpopuler di Konsultasi Gigi detikHealth 2014.

Salah satu pembaca yang menanyakan seputar penggunaan gigi palsu adalah Lisa (32). “Saya memiliki susunan gigi yang tidak bagus. Gigi depan saya menumpuk. Kemudian waktu saya masih SMP satu gigi yang menumpuk tadi ukurannya lebih besar, akhirnya atas izin dokter gigi yang besar itu dicabut, semenjak itu sampai sekarang saya menggunakan gigi palsu. Yang saya mau tanyakan, apakah ada alternatif lain selain menggunakan gigi palsu?”

Menurut Prof drg Lindawati S. Kusdhany, Sp.Pros (K), pengasuh Konsultasi Gigi detikHealth, untuk menggantikan gigi yang hilang dapat dilakukan dengan menggunakan gigi palsu atau gigi tiruan. Gigi tiruan tersebut tersedia berbagai macam, yaitu ada gigi tiruan lepas, gigi tiruan cekat, dan gigi tiruan implan.

“Diperlukan untuk berkonsultasi ke dokter gigi spesialis prostodensia (dokter spesialis gigi tiruan) agar dapat dicarikan jenis gigi tiruan yang paling sesuai dan nyaman bagi Anda,” ungkap drg Lindawati.

Gigi tiruan lepas ialah gigi tiruan yang dapat dilepas pasang oleh pasien ketika digunakan. Sedangkan gigi tiruan cekat ialah gigi yang direkatkan secara permanen dengan dukungan gigi asli di sebelah gigi yang hilang atau dikenal dengan gigi tiruan jembatan (bridge). Selanjutnya gigi tiruan implan ialah gigi yang berupa implan titanium yang ditanamkan pada tulang rahang dan di atasnya dipasangkan mahkota gigi tiruan.

“Kondisi itu dilakukan apabila gigi depan renggang yang diakibatkan bergesernya gigi atau memang dari awal terdapat ruang antar gigi. Bila ruang tersebut tidak terlalu besar, maka dapat ditutup dengan pembuatan crown atau mahkota tiruan atau sering pula dikenal dengan istilah jacket crown,” terang drg Lindawati.

Ia mengingatkan bahwa pemakaian gigi palsu lepasan harus dikontrol secara rutin ke dokter gigi setidaknya setiap 6 bulan sekali. “Hal itu berguna agar jika terjadi perubahan pada kondisi gigi dan mulut yang berdampak pada gigi tiruan dapat ditanggulangi sebelum menjadi parah. Misalnya tulang rahang pendukung gigi tiruan yang akan menyusut seiring dengan berjalannya waktu, sehingga dengan kontrol secara rutin ke dokter gigi maka gigi tiruannya dapat diperbaiki dengan melapisi lagi gigi tiruan tersebut agar sesuai dengan kondisi tulang rahang,” ucap drg Lindawati.

Leave a Reply