Konsultasi Gigi: Cara Memutihkan Gigi yang Aman

Yulida Medistiara – detikhealth

Gigi yang kekuningan ataupun menghitam biasanya membuat si empunya ogah membuka mulutnya lebar-lebar. Ya, perihal warna gigi memang bisa membuat rasa percaya diri seseorang berkurang. Nah, jika hendak memutihkan gigi dengan obat yang banyak beredar di pasaran, amankah?

Pertanyaan seputar bagaimana memutihkan kembali warna gigi menjadi pertanyaan paling banyak dilontarkan pembaca detikHealth di Konsultasi Gigi. Misalnya pertanyaan yang disampaikan Iman (20). “Gigi saya tidak putih karena kebiasaan minum teh dan kopi. Nah, di pasaran beredar semacam obat untuk memutihkan gigi. Apakah ini aman digunakan? Karena harganya jauh lebih murah daripada bleaching ke dokter, saya tergiur juga. Tapi saya masih meragukan kemanjurannya, karena orang sekitar saya belum ada yang menggunakan produk tersebut. Amankah saya menggunakan produk itu?”

Menurut Prof drg Lindawati S. Kusdhany, Sp.Pros(K), bahan pemutih gigi sebaiknya digunakan setelah direkomendasikan dokter gigi dan tidak menggunakan produk dari luar anjuran dokter secara sembarangan. Dokter gigi akan menentukan jenis pemutih atau bleaching yang paling sesuai dengan kondisi gigi tersebut. Tindakan beaching atau pemutihan gigi dapat dilakukan di praktik dokter gigi dengan bahan gel peroksida yang konsentrasinya lebih tinggi, sehingga lebih efektif dan cepat untuk memutihkan gigi.

“Sementara itu, adapula bahan pemutih gigi yang bisa dipakai sendiri oleh pasien di rumah, tetapi biasanya konsentrasi zat aktifnya lebih rendah daripada yang dilakukan dokter gigi,” ucap drg Lindawati, pengasuh Konsultasi Gigi detikHealth.

Pemilihan bahan akan ditentukan oleh dokter gigi sesuai dengan keparahan kondisi gigi tersebut. Maka, sebelum melakukan proses pemutihan biasanya dokter gigi akan memeriksa dengan seksama apakah kondisi pasien memungkinkan untuk dilakukan pemutihan gigi atau tidak.

“Kondisi adanya kelainan jaringan penyangga gigi, turunnya gusi sehingga akar gigi terlihat dan adanya abses gigi merupakan kontraindikasi pemutihan gigi karena akan memicu sensitivitas gigi,” ungkap drg Lindawati.

Perubahan warna gigi menjadi lebih gelap atau dikenal dengan istilah diskolorasi dapat disebabkan banyak faktor antara lain faktor makanan seperti teh, kopi, dan merokok. Sementara faktor kebersihan mulut yang kurang, penyakit yang mengenai email dan dentin misalnya infeksi yang diderita ibu saat mengandung dapat mempengaruhi pertumbuhan email pada gigi janin.

drg Lindawati menjelaskan obat-obat tertentu yang dikonsumsi tanpa pengawasan dokter seperti antibiotik golongan tetrasiklin yang diminum saat anak usia pertumbuhan juga dapat menimbulkan diskolorasi menyeluruh. Adanya trauma pada gigi juga dapat menimbulkan diskolorasi. Maka, dokter gigi juga akan melakukan pemeriksaan apakah kondisi perubahan warna gigi disebabkan oleh adanya tambalan lama yang sudah berubah warna, gigi yang sudah nonvital sehingga warna gigi berubah keabuan, atau malah disebabkan oleh pewarnaan akibat obat.

“Pada kondisi tersebut perlu penanganan yang berbeda. Segeralah berkonsultasi ke dokter gigi untuk dicarikan solusi yang tepat. Solusi akan disesuaikan dengan penyebab, bisa hanya dengan skaling atau pembersihan karang gigi, sampai bleaching atau pelapisan gigi (veneer),” tutur drg Lindawati.

Leave a Reply